Apa Itu Kurikulum?

Perkataan “kurikulum” mulai dikenal sebagai suatu istilah dalam dunia pendidikan sejak kurang lebih satu abad yang lalu, dimana istilah “kurikulum” itu untuk pertama kalinya digunakan dalam bidang olah raga, yaitu suatu alat yang membawa orang dari start sampai ke finish. Baru pada tahun 1955 istilah “kurikulum” digunakan dalam bidang pendidikan, dengan arti sejumlah materi pelajaran dari suatu perguruan.

Menurut Hilda Taba dalam bukunya “Curriculum Development; Theory and Practice”, sebagaimana dikutip oleh Khoiron Rosyadi, kurikulum diartikan sebagai sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh anak didik. Dalam pengertian yang lain, kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Pengertian ini menggarisbawahi adanya 4 (empat) komponen pokok dalam kurikulum, yaitu tujuan, isi/bahan, organisasi dan strategi.

Pengertian seperti tersebut di atas merupakan pengertian kurikulum yang sempit, dimana kurikulum diartikan secara terbatas karena masih belum mencakup aktivitas peserta didik dalam proses kependidikan. Hal inilah yang selama beberapa dekade ini telah “mengebiri” kurikulum pendidikan kita serta mengarahkannya pada nasionalisme yang sempit dan uniformitas (keseragaman) baik dalam berpikir dan bertindak, yang secara tidak langsung memasung kreatifitas guru dan memperendah proses perkembangan imajinasi, keberanian dan daya berpikir peserta didik.

Konsep sentralisasi tersebut merupakan bagian dari kelemahan struktur dan mekanisme praktek pendidikan kita yang selama ini terlalu menekankan pada proses. Sehingga telah melahirkan suatu kecenderungan “proses pengajaran oleh guru” (teacher teaching) dibandingkan dengan — yang seharusnya — sebagai “proses pembelajaran oleh peserta didik” (student learning). Guru diharuskan melaksanakan tugas dengan metode sebagaimana “petunjuk dari atas”, terlepas setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka dan cocok tidaknya metode tersebut dengan materi yang disampaikan. Dengan kata lain pendidikan seharusnya lebih menekankan pada aspek pembelajaran (learning) dan bukan pengajaran (teaching).

Situasi terbungkamnya dinamika keilmuan Indonesia inilah yang disebut oleh Paulo Freire sebagai “budaya bisu”, dimana penghargaan terhadap demokratisasi pendidikan sangat kurang dan nyaris tidak ada. Dalam situasi demikian, pendidikan Indonesia mulai menampakkan titik cerah begitu digulirkannya reformasi dan berkembangnya isu otonomi daerah.

Menurut Paulo Freire, mengajar bukannya memindahkan pengetahuan dengan hafalan. Mengajar tidak direduksi menjadi “mengajar” saja, tetapi mengajar menjadi efektif jika peserta didik “belajar untuk belajar” (learn to learn). Konsep mengenai pembelajaran efektif ini mulai dikedepankan di Indonesia adalah dengan pendekatan CBSA (cara belajar siswa aktif) dan KBK yang menekankan konsep learning by doing, dan pendekatan ketrampilan proses. Kedua konsep tersebut merupakan representasi dari desentralisasi pendidikan sebagai bagian dari upaya pemberdayaan pendidikan melalui otonomi. Dan yang paling “gress’ saat ini adalah dengan dikenalkannya “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” (KTSP) oleh pemerintah.

Kembali ke masalah pengertian kurikulum, dengan kondisi tersebut di atas, tampaknya pengertian yang dikemukakan Hasan Langgulung terasa lebih luas, dimana menurut dia kurikulum adalah “Sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan”. Pengertian ini menggambarkan segala bentuk aktivitas sekolah yang sekiranya mempunyai efek bagi pengembangan peserta didik, dan bukan hanya terbatas pada kegiatan belajar mengajar saja.

Pengertian lain yang senada dengan Hasan Langgulung adalah apa yang disampaikan oleh J. Galen Saylor, William M. Alexander, serta Artur J. Lewis, dalam “Curriculum Planning for Better Teaching and Learning” menjelaskan arti kurikulum sebagai berikut:
The curriculum is the sum total of school’s effort to influence learning, weither in the classroom, on the playgroup, or out school.”

Jadi, segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak itu belajar, apakah dalam ruangan kelas, di halaman sekolah, atau di luar sekolah, dapat dikategorikan sebagai kurikulum. Dengan demikian, kurikulum meliputi segala pengalaman yang disajikan oleh sekolah agar anak mencapai tujuan yang diinginkan. Hal demikian dikarenakan suatu tujuan tidak akan tercapai dengan suatu pengalaman saja, akan tetapi melalui berbagai pengalaman dalam bermacam-macam situasi, di dalam maupun di luar sekolah.

Pengertian kurikulum menurut Hasan Langgulung dan juga J. Galen Saylor, yang mengartikan bahwa kurikulum merupakan pengalaman belajar, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah ini nampaknya berjalan linier dengan paradigma pendidikan Post modernisme yang mengharuskan pendidikan mempunyai sifat yang “terbuka”. Terbuka dalam arti tidak hanya menjadi subyek yang masterable dan mempunyai kontrol tertentu, tetapi lebih dari itu dapat menemukan makna kontemporer dan tidak terlalu terpaku pada single definitif. Hal demikian karena pengalaman bukanlah sebuah entitas reduktif terhadap entitas yang sama, tetapi pengalaman adalah sebuah bentuk yang terbuka terhadap perbedaan. Keterbukaan tersebut melibatkan pengertian yang tidak hanya mencari makna tertentu, tetapi menjadikan peserta didik lebih terbuka terhadap pengalaman baru dan multiple.

Namun begitu, kaitannya dengan sistem pendidikan di negara Indonesia, pendidikan harus tetap mengacu pada “kesatuan dalam kebijaksanaan dan keberagaman dalam pelaksanaan”. Yang dimaksud dengan “kesatuan dalam kebijaksanaan” ditandai dengan sekolah-sekolah menggunakan perangkat dokumen KTSP yang “sama” yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional/Kementerian Agama. Sedangkan “Keberagaman dalam pelaksanaan” ditandai dengan keberagaman silabus yang akan dikembangkan oleh sekolah masing-masing sesuai dengan karakteristik sekolahnya.

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: